Azwar Darasah: Gagal Jadi Pekerja, Sukses Berbisnis Tekstil
A- A+

Ketika merantau dari kampung halamannya di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Azwar Darasah meniatkan untuk menuntut ilmu. Dia mengambil jurusan hukum di Universitas Bung Hatta.

Setelah menamatkan kuliahnya, dia ingin menyenangkan orang tuanya dengan menjadi jaksa. Ia mencoba melamar menjadi jaksa sebanyak tiga kali namun tidak diterima. Karena itu, akhirnya dia banting setir menjadi pengusaha.

Dia memilih toko perlengkapan umrah dan perlengkapan ibadah untuk pria seperti sarung dan baju koko. Dari satu toko kecil, kini telah berkembang menjadi 30 toko. Bagaimana kisahnya?

Dari cita-cita menjadi jaksa, bagaimana sampai akhirnya menjadi pedagang?

Saya dari dulu sudah percaya diri kalau soal berdagang dan memang saya minat. Apalagi orang tua saya juga pedagang. Masalah pendidikan saya memang memilih menuruti orang tua dan berusaha menjadi pegawai negeri seperti kakak-kakak saya.

Namun tidak berhasil, lalu saya berpikir kenapa tidak buka usaha saja.

Mengapa akhirnya memilih untuk berdagang baju muslim dan ibadah umrah?

Saya lihat prospek usaha busana muslim itu bagus sekali karena setiap tahun momentumnya banyak. Ada Idulfitri, Iduladha dan haji. Setiap tahun juga ada saja yang berangkat umrah.

Banyak yang membeli busana muslim. Kemudian saya lihat ada juga peluang untuk kerjasama dengan travel umrah. Maka itu walaupun toko masih kecil saya berani stok beribu-ribu kodi.

Bagaimana awal memulai usaha?

Saya awal membuka usaha di tahun 2005 di Bandung. Saya membuka toko kecil-kecilan di sana. Modalnya Rp 41 juta. Kemudian saya melihat Tanah Abang ini sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar se-Asia Tenggara.

Saya lihat prospeknya bagus, saya buka usaha di sini. Empat tahun berjalan, mulai bisa menikmati hasilnya.

Kapan saat-saat mengalami kelebihan permintaan?

Saat menjelang dua bulan sebelum dan selama puasa. Saya awalnya menyimpan stok barang dua lantai di rumah. Sekarang, semua barangnya sudah ke toko dan terjual. Alhamdulillah itu luar biasa saya kira.

Apa rahasia suksesmu?

Kuncinya bagaimana kita juga harus memberikan motif dan warna atau desain yang beragam sesuai tren. Meski sudah banyak pelanggan, saya pegang prinsip tidak pernah lalai untuk urusan kualitas, model dan harga.

Saya selalu cek ke 15 konveksi di Tasikmalaya yang menjadi rekan bisnis. Saya jujur  tidak pernah berpromosi, tapi pelanggan ada saja yang mencari.

Bagaimana dukungan BCA untuk usahamu ini?

Saya memanfaatkan tabungan BCA dan mesin Electronic Data Capture (EDC) untuk transaksi. Pelanggan saya dipermudah karena tidak perlu ke bank atau ATM untuk mengambil uang.

Saya juga mengambil kredit modal kerja dan juga KPR BCA karena bunganya rendah. Kita kalau mau membangun usaha dipermudah oleh BCA. Persyaratannya ringan. Saya tidak merasa dipersulit oleh BCA.

Ini yang tidak saya dapatkan ketika mencoba ke bank bank lain.