Dari Jualan Busana Wanita hingga Merambah Busana Pria
A- A+



Bagi para anak muda, merek H&M tentu bukan lagi barang baru. Buktinya, ketika merek ini membuka outlet pertamanya di Indonesia, ada banyak anak muda yang rela antre demi mendapat koleksi dari H&M.

Erling Persson mendirikan H&M pada 1947 di Swedia. Awalnya, merek ini bernama Hennes yang dalam bahasa Swedia berarti “hers” atau miliknya untuk perempuan. Memang, di awal merek ini secara eksklusif hanya menjual pakaian dan aksesori wanita.

Pada 1968, Hennes bergabung seorang pengusaha penjual alat pertukangan dan berburu, Mauritz Widforss. Sejak saat itu, Hennes berubah nama menjadi H&M dan mulai menjual pakaian pria.

Parsson membangun H&M setelah melihat toko pakaian yang mampu memproduksi dengan efisien dalam volume tinggi di Amerika Serikat. Ia merasa harus membuat toko serupa di negara asalnya.

Tinggal di kota kecil Vasteras, Parsson merasa ia harus pindah ke Ibukota swedia, Stockholm untuk mendapat peluang usaha yang lebih besar. Walau sudah pindah ke Stockholm, ia tak langsung membuka toko pertamanya.

Malahan, ia membuka toko pertama di Vasteras karena ia harus meyakinkan diri terlebih dulu bahwa usahanya berhasil sebelum membuka toko di kota besar. Menurutnya, kalau kita memulai dari yang kecil, saat gagal tak ada orang yang akan memperhatikan.

Sedangkan jika memulai langsung dari hal yang besar dan gagal, ia takut reputasinya akan menjadi jelek. Salah satu kunci sukses H&M adalah kolaborasi dengan perancang busana terkenal seperti Sonia Rykiel, Mattew Williamson, Roberto Cavalli, Jimmy Choo, Stella McCrtney, dan Karl Lagerfeld.

Saat ini H&M memiliki lebih dari 4.500 toko yang tersebar di seluruh dunia dengan total karyawan mencapai 161 ribu. Merek ini juga menjadi peritel kedua terbesar di dunia setelah Group Inditex (Zara, Pull&Bear, dan Stradivarius).