Masih Ragu Lakukan Digitalisasi Bisnis? Tengok Gambaran Keuntungannya

Masih Ragu Lakukan Digitalisasi Bisnis? Tengok Gambaran Keuntungannya

Kemajuan teknologi membuat orang berpikir ulang mengenai proses bisnis. Berkat bantuan teknologi, kini orang bisa bekerja lebih efisien, termasuk dalam kegiatan bisnis. Dalam bisnis pun, digitalisasi perlu untuk membantu bisnis agar mampu bertahan dan memiliki daya saing.

Partner dan Presiden Direktur McKinsey Indonesia Phillia Wibowo menyebutkan, digitalisasi sudah memberikan perubahan terhadap tiga penting dalam bisnis. Yakni, fondasi bisnis, proses bisnis dan menambah batasan bisnis baru (new frontiers).

"Secara fondasi bisnis, kita menggunakan komputer, misalnya, untuk menyimpan dan mengorganisasikan data. Proses bisnis juga banyak berubah meski bisnis inti (core) tidak berubah," ujar Phillia dalam BCA Indonesia Knowledge Forum 2017.

Digitalisasi, lanjut Phillia, juga sudah menyebabkan disrupsi (gangguan) di semua bidang industri. Dalam hal tersebut, bidang manufaktur, ritel dan transportasi menjadi bidang yang paling besar mengalami gangguan.

"Namun, berkat digitalisasi, produktivitas karyawan menjadi naik tinggi. Potensinya bisa mencapai US$120 juta," tambah lulusan Institut Teknologi Bandung itu. Dus, tak ada alasan lagi untuk tidak menerapkan digitalisasi bagi sebuah bisnis.

Lalu, apa yang perlu dilakukan?

Phillia menyebutkan, salah satu hal penting adalah mengubah pola pikir. Digitalisasi membuat ekspansi usaha tidak perlu disertai penambahan biaya (cost). "Ekspansi kanal pemasaran melalui twitter misalnya. Apa memerlukan biaya tambahan? Tidak. Kita justru harus siap dengan tambahan penjualan," jelasnya.

Kamu juga bisa belajar dari kesuksesan laman Airbnb dan Uber maupun Gojek untul hal ini. Airbnb adalah salah satu contoh disrupsi di bisnis properti dan perhotelan. Untuk masuk ke dalam bisnis ini, pesaing tidak harus menunggu bertahun-tahun dan punya lahan luas.

Uber dan Gojek pun memberi pelajaran berharga  yang sama, jasa pengantaran (delivery service) tidak harus dilakukan oleh karyawan itu sendiri. "Di ritel, Nestle juga tidak pernah menyangka bahwa saingannya bisa dari perusahaan apa saja, termasuk perusahaan e-dagang," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE