Putus Kuliah Tak Halangi Pria Ini Jadi CEO di Usia 23 Tahun

Putus Kuliah Tak Halangi Pria Ini Jadi CEO di Usia 23 Tahun
Putus Kuliah Tak Halangi Pria Ini Jadi CEO di Usia 23 Tahun

Orang bijak mengatakan, siapa saja bisa sukses asal mau bekerja keras dan terus belajar. Meski putus kuliah, Robert Bob Wibawa berhasil membuktikan hal tersebut. Di usia 23 tahun, Robert sudah menjadi CEO di PT Surya Warna Putra dan membuktikan bahwa pemimpin tak harus bergelar tinggi.

Setelah lulus SMA dari Sekolah Kalam Kudus, Solo pada 2012, Robert pun diterima kuliah di Universitas Petra, Surabaya. Di sela masa orientasi, Robert mengaku bimbang dan ingin kembali ke Solo dan membesarkan usaha tekstil orang tuanya.

Meski sempat ditentang dan mendapat penolakan dari orang tuanya, Robert tetap memutuskan berhenti kuliah. "Banyak omongan dari keluarga. Kalau tidak mau kuliah mau jadi apa? Yang kuliah saja belum tentu berhasil dan berwawasan luas. Mau jadi apa? Saat itu, secara mental saya benar-benar di titik bawah," katanya seperti dilansir Bisnis Indonesia.

Tekadnya sudah bulat. Orangtua Robert menyuruhnya bekerja di perusahaan. Dalam hati, Robert juga menargetkan, selama tiga sampai empat tahun, dirinya harus sukses. Setiap hari, dia datang ke pabrik tekstilnya di Sukoharjo. Dia juga belajar mengenai proses produksi dan distribusi barang.

Dari sana, dia mendapat banyak pelajaran. Dari jaringan yang dibentuknya di lapangan, Robert dapat menambah klien. Saat klien bertambah, dia pun menemukan masalah. Eksekusi produk yang terlalu lama dan kurangnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Saya pun memanggil mekanik-mekanik lama untuk mengatur cara kerja. Saya siapkan 6-7 orang, bila dalam satu-tiga bulan tak bisa bekerja seperti saat tes masuk, saya akan kenakan sanksi. Sekarang, sebagian pekerja sudah punya kapabilitas," tambahnya.

Selama memimpin, Robert berhasil membuat perusahaannya berekspansi dan membuat perusahaan dyeing finishing (pencelupan) sendiri, PT Surya Warna Putra. Perjuangannya mendirikan perusahaan ini tidak mudah karena butuh modal besar, izin limbah dan SDM handal.

Robert mengungkap, kunci untuk bersaing adalah melakukan pengembangan bisnis. "Kalau saya tidak ditekan, mungkin saya tidak akan memiliki semangat juang dan mental seperti sekarang. Dari awal, memang usaha kami tidak banyak diperhitungkan. Namun, ini juga menjadi tantangan," katanya.

Hal ini pula yang membuat Robert selalu mencoba segala peluang. Demikian, ia bias menemukan peluang-peluang baru yang lebih besar dan menarik. "Kesempatan seperti pintu kaca. Kalau dari jauh, pintu itu menutup terus. Namun, kalau kita dekati, sensor akan menyadari keberadaan kita dan pintu pun terbuka," pesannya.

Di tahun ini, Robert menargetkan usaha tekstilnya bisa melakukan ekspor. Untuk meraih target ini, Robert sudah memiliki beberapa rekan bisnis di Asia dan luar Asia yang siap membantu.

MORE FROM MY SITE