Remitansi dari Tenaga Kerja RI Terbesar Keempat di Dunia
A- A+

Pada 2015, aliran uang (remitansi) dari tenaga kerja Indonesia mencapai US$10,5 miliar (Rp145,26 triliun). Jumlah tersebut lebih besar dari tahun lalu yang mencapai US$8,3 miliar (Rp97 triliun.

Alhasil, Indonesia pun menjadi negara penerima remitansi terbesar ke-4 di dunia. Sebagian besar uang disalurkan ke rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya pendidikan dan keperluan anak.

Untuk posisi pertama, India terbanyak (US$ 72,2 miliar), Tiongkok (US$ 63,9 miliar) dan Filipina (US$ 29,7 miliar). Dalam laporan Bank Dunia ‘Migration and Remmitances Factbook 2016’, remitansi pekerja migran berperan besar dalam pembangunan nasional dan menopang jutaan rumah tangga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Uang yang dikirimkan TKI umumnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya pendidikan dan keperluan anak,” ujar laporan Bank Dunia itu. Selain itu, hanya sedikit remitansi yang dipakai untuk investasi fisik, seperti beli ternak, deposito, beli lahan pertanian dan alat pertanian maupun dagang.

Hal ini tak mengejutkan sebab motivasi pekerja migran adalah menopang kehidupan keluarga. Secara global, pekerja migran bakal menembus 250 juta jiwa tahun ini. Adapun remitansi mengalir ke negara asal diprediksi mencapai US$ 601 miliar dan sebesar US$ 44 miliar ke negara berkembang.

“Jumlah ini tiga kali lebih besar dibanding dana bantuan pembangunan, remitansi pekerja migran akan menyokong hidup jutaan rumah tangga di negara berkembang. Pekerja migran internasional juga mampu menyimpan lebih dari US$ 500 miliar per tahun,” kata salah satu penulis factbook Dilip Ratha di situs Bank Dunia.

Tahun lalu, Amerika Serikat menjadi negara sumber remitansi terbesar, sekitar US$ 56 miliar. Diikuti Arab Saudi US$ 37 miliar, dan Rusia US$ 33 miliar. Sedangkan Indonesia ada di empat terbawah, sekitar US$ 4,1 miliar.