Kantor Jadi Pilihan Terakhir Generasi Muda Sebagai Tempat Bekerja

Kantor Jadi Pilihan Terakhir Generasi Muda Sebagai Tempat Bekerja

Sudah bukan rahasia lagi bahwa generasi muda (milenial) memiliki gaya yang mendobrak tradisi, baik dalam karier dan kerja. Dalam bekerja, mereka tak suka diatur dan memilih pekerjaan yang menawarkan cara kerja dan jam kerja fleksibel.

Bagi mereka, kantor adalah tempat terakhir untuk bekerja. Sebab, mereka menilai bahwa bekerja bisa di mana saja, termasuk kafe. Riset ISS bersama Copenhagen Institute for Future Studies (CFIS) berjudul “Masa Depan Kerja, Tenaga Kerja, dan Tempat Kerja” pada lebih dari 4.500 profesional di dunia ingin melihat gambarannya.

Hasilnya, jumlah pekerja bergerak (mobile) kini mencapai 37% atau sekitar 1,3 miliar tenaga kerja dari total tenaga kerja dunia. CMO Group ISS Peter Ankerstjerne menyebut, kondisi ini memicu sejumlah tantangan bagi para pemimpin di berbagai perusahaan.

Salah satunya, hanya 50% meja kantor terisi orang. Selain itu, kini hanya 15% karyawan yang memiliki keterikatan dengan kantor. Imbas lainnya, kebutuhan penyewaan ruang kantor juga terus menurun.

“Cara dan tempat bekerja saat ini akan sangat berbeda pada 2020 nanti. Jumlah milenial yang menginginkan keberagaman dan fleksibilitas dalam kantor akan semakin banyak,” ungkap Peter seperti dilansir Bisnis Indonesia.

Peter bilang, ruang kerja berbasis aktivitas pun bisa menjadi solusi. Ruang kerja seperti ini lazim ditemui di perusahaan-perusahaan maju di Amerika Serikat (AS) atau Eropa. Dia menyebut, kini semakin lazim bila ada perusahaan mengintegrasikan kantor dengan pusat kebugaran, bar, dan binatu.

Demikian, karyawan akan merasa lebih nyaman sehingga mudah bersosialisasi dengan rekan kerja. “Pemanfaatan ruang kantor yang tak terpakai untuk ruang aktivitas akan membantu membangun budaya perusahaan dan kerja kolaboratif,” tambahnya.

Tempat kerja, sekarang dan masa mendatang, tak lagi sebatas mencakup fasilitas, juga lebih berbasis pengalaman. Ke depannya, kantor virtual atau co-working space akan semakin menjamur.

Menurut survei Lenovo dan IDC dalam "Enabling the Future Workspace-Agile, Intelligent and Engaging", diketahui bahwa pada 2020 mendatang, 50% tenaga kerja di Asia yang terdiri dari millenial merupakan ahli teknologi.

Hal tersebut otomatis meningkatkan penggunaan alat untuk akselerasi inovasi seperti Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), cognitive/artificial intelligence (AI) dan robotik untuk meningkatkan daya saing.

MORE FROM MY SITE