Pemerintah Sadari Pentingnya Inovasi untuk Kurangi Risiko Bisnis
A- A+

Agar tidak tergilas kompetisi atau gagal bersaing, inovasi memang diperlukan. Inovasi tak terbatas pada pemain bisnis besar, juga Usaha Kecil Menengah (AS), pemerintah bahkan koperasi.

Menurut Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) Braman Setyo, Sistem Informasi Debitur (SID) yang merupakan bentuk inovasi untuk koperasi sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko kredit.

Berkaat SID, koperasi, pemerintah dan masyarakat bisa melihat rekam jejak kredit secara jelas. Hal ini tentu bisa meningkatkan status pinjaman dan akses pinjaman dari lembaga pemberi kredit.

Koperasi yang sudah memanfaatkan SID, kata Braman, juga akan mendapat kemudahan dalam mengakses pinjaman ke Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir (LPDB).

"Bagi pemerintah, ini membantu terciptanya industri perkreditan yang sehat. Selain itu, juga memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro," kata Braman seperti dikutip Kontan.

SID sendiri adalah sekumpulan data-data nasabah di dalam lembaga keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah regulator lembaga keuangan yang menaungi data tersebut.

Bila data dan rekam jejak nasabah koperasi simpan pinjam sudah masuk ke data SID, OJK  akan lebih mudah mengendalikan pengelolaan kredit para debitur. Dalam SID, OJK juga melengkapi data-data mengenai perbankan, pasar modal, dana pensiun dan asuransi serta data-data sarana umum lainnya.

Menurut catatan, koperasi usaha simpan pinjam saat ini sudah ada 110.189 unit dengan jumlah anggota 20,8 juta orang. Pinjaman yang diberikan sebesar Rp 65,57 triliun dan aset Rp 86,81 triliun.

Dari jumlah ini, di Indonesia, baru ada tiga koperasi yang menjadi anggota SID, termasuk Kospin Jasa di Pekalongan, Obor Mas Maumere di NTT, dan Sahabat Mitra Sejati di Jakarta.

Di era dimana bisnis telah begitu berkembang, koperasi tak harus terjebak stigma sebagai lembaga keuangan tradisional yang mengedepankan gotong royong sehingga dikelola secara sederhana dengan manajemen seadanya.