Pengingat Sejarah di Balik Pahlawan Nasional di Uang Baru
A- A+

Di akhir 2016, Bank Indonesia meluncurkan 11 pecahan (tujuh uang kertas dan empat uang logam) uang rupiah baru dengan tokoh pahlawan nasional. Sebagai pengingat dan peringatan Hari Pahlawan hari ini, mari kenali sejarah mereka.

Dr. (HC) Ir. Soekarno dan Dr (HC) Drs. Mohammad Hatta di pecahan Rp100 ribu
Soekarno (nama lahir Koesno Sosrodihardjo) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Ia meninggal di Jakarta pada 21 Juni 1970 di usia 69 tahun. Ia adalah Presiden Indonesia pertama pada 1945-1966. Bapak Bangsa ini punya peran penting memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Sedangkan Mohammad Hatta (nama lahir Mohammad Athar) lebih dikenal sebagai Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dan meninggal di Jakarta, pada14 Maret 1980 di usia 77 tahun. Bung Hatta merupakan pejuang, negarawan, ekonom, dan Wakil Presiden Indonesia pertama.

Ir. H. Djuanda Kartawidjaja di pecahan Rp50 ribu
Djoeanda lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 Januari 1911 dan meninggal di Jakarta pada 7 November 1963 saat usia 52 tahun. Ia adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi Ratulangi di pecahan Rp20 ribu
Sam Ratulangi lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta pada 30 Juni 1949 ketika berusia 58 tahun. Ia merupakan aktivis kemerdekaan dari Sulawesi Utara dan sering disebut sebagai tokoh multidimensional.

Frans Kaisiepo di pecahan Rp10 ribu
Frans lahir di Wardo, Biak, Papua, pada 10 Oktober 1921 dan meninggal di Jayapura, Papua pada 10 April 1979 ketika berusia 57 tahun. Pahlawan nasional asal Papua ini terlibat dalam Konferensi Malino pada 1946 yang membicarakan pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.

Dr. K.H. Idham Chalid di pecahan Rp5.000
Idham lahir di Satui, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921 dan meninggal di Jakarta pada 11 Juli 2010 di usia 88 tahun. Ia salah satu politisi yang berpengaruh pada masanya dan pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia di Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda, dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-4

Mohammad Hoesni Thamrin di pecahan Rp2.000
Thamrin lahir di Jakarta pada 16 Februari 1894 dan meninggal di Jakarta pada 11 Januari 1941 di usia 46 tahun. Ia adalah politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.

Tjut Meutia di pecahan Rp1.000
Meutia lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, pada 1870 dan meninggal di Alue Kurieng, Aceh, pada 24 Oktober 1910. Ia awalnya melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Bersama sisa pasukan, Meutia berjuang melawan penjajah dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara.

Mr. I Gusti Ketut Pudja di pecahan Rp1.000
Gusti di Bali pada 19 Mei 1908 dan meninggal di Jakarta, 4 Mei 1977 pada umur 68 tahun. Ia ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara) dan nenjadi Gubernur Sunda Kecil pertama.

Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang di pecahan Rp500
Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 dan meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun. Tokoh militer dan Gereja di Indonesia ini pernah ditunjuk Presiden Soekarno sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP).

Dr. Tjipto Mangunkusumo di pecahan Rp200
Tjipto lahir di Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, 1886 dan meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943. Ia tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, ia dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang menyebarluaskan ide pemerintahan dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan Belanda.

Prof.Dr.Ir. Herman Johanes di pecahan Rp100
Herman Johannes lahir di Rote, NTT, 28 Mei 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada umur 80 tahun. Ia adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum ke-7 (1950-1951).